#HCD Hijab Story: Dwina Arini and her Hijab

Bismillahirrohmanirrohim..

Depok, somewhen in 2002…

Ku lihat bayangannya di cermin besar berornamen  Jawa. Wanita itu terlihat anggun dalam balutan selendang hijau. Terlihat mengalir lembut di kepalanya, menutupi mahkotanya dan membentuk sebuah mahkota baru yang jauh lebih indah. Sebuah bros kupu-kupu menyempurnakan penampilan wanita itu.

“Mama, cantik deh..” ucapku pada ibuku, wanita yang sedari tadi ku perhatikan gerak-geriknya saat mengenakan kerudungnya.

Mama tersenyum padaku dan mengelus pipiku, “Kamu jauh lebih cantik dari Mama, sayang..”

Aku pun membalas senyumnya dan terbentuklah tekad baru dalam diriku.

 

Depok, Mei 2002

“Win, kamu mau masuk SMP mana?”tegur Papa padaku setelah pulang dari pengambilan raport dan ijazah kelulusan di SD Tugu Ibu, Depok.

“Nggak tau, Pa… SMP 3 mungkin, temen-temenku banyak yang kesana.”jawabku sekenanya.

“Mau di negeri? Nggak mau di swasta?”tanya Mama dari kursi belakang mobil.

“Mana aja deh. Yang penting SMP aku mau pake jilbab…”jawabku lagi.

“Kalau gitu, di SMP Nurul Fikri aja. Kan disana wajib pake jilbab, biar kamu juga belajar jilbab-an yang bener.”usul Papa.

“Yaudah.”kataku langsung mengiyakan usul Papa tanpa berpikir panjang.

                                *****************************************************

Itulah awal mula aku memakai kerudung, atau jilbab atau hijab yang menjadi sapaan akrab kain penghias kepala para muslimah sekarang ini. Ketika kelas 6 SD, ibuku memutuskan mengenakan jilbab. Aku terpana melihat ibuku, yang menjadi lebih anggun dan bersahaja ketika memutuskan mengenakan jilbab. Kain penutup kepala yang digunakan oleh ibuku selalu mengundang perhatianku bagaikan magnet. Semenjak itulah, aku bertekad untuk mengenakan jilbab secepatnya. Saat itu, aku sudah hampir lulus SD sehingga kupikir SMP adalah momen yang tepat untuk transformasiku.

Alhamdulillah, Allah SWT memberikanku hidayah yang sempurna saat itu. Diriku, yang ketika kelas 6 SD sudah mengalami menstruasi, seharusnya sesuai hukum Islam sudah wajib mengenakan jilbab. Alhamdulillahirobbilalamin, tidak perlu berlama-lama aku mengumbar auratku, Allah mengijinkanku untuk menutupnya secara sempurna. Cara yang Allah berikan dalam menyampaikan berkah hidayah-Nya kepadaku sungguh indah, dan itu baru kusadari belakangan ini. Begitu aku memutuskan untuk memakai jilbab, orang tuaku sangat mendukung dengan memasukkanku ke SMP Islam, yang tentunya akan menyempurnakan proses transformasiku. Sungguh, Dia-lah yang Maha Memberikan Hidayah dan Maha Sempurna.

Maka, jilbab menjadi pakaian wajib yang ada di lemariku saat itu. Aku bangga menunjukkan jilbabku pada semua orang. Hampir tiap pagi aku mematut diri di depan cermin hanya untuk mengatur jilbabku supaya terlihat pas dengan bentuk mukaku yang kotak. Subhanallah memang, jilbab menjadikan siapapun yang mengenakannya menjadi lebih anggun, bahkan untukku yang waktu itu baru menginjak usia remaja tanggung.(hehe, memuji diri sendiri sebenernya :p )

Ramadhan pertama di SMP kulalui dengan senang, karena ini Ramadhan pertama dengan penampilan baruku. Aku selalu bangga ketika bertemu dengan teman lama dan ia terkejut melihat penampilanku. Aku selalu tersenyum lebar ketika ada yang berkomentar, “Winaaaa, pake jilbab sekaraang? Waah, nggak nyangka..”. Aku selalu menganggap komentar itu sebagai pujian. Tak pernah terbersit sekalipun rasa malu kala itu. Dan aku pun bertekad kuat untuk setia mengenakan jilbab hingga ku mati.

Bahkan jilbab tidak kulepaskan saat aku mengikuti sebuah olimpiade paduan suara di Busan, Korea Selatan pada tahun 2002. Tidak ketika teman-teman SMP ku menanggalkan jilbabnya ketika di luar sekolah. Tidak juga ketika aku sudah lulus SMP dan memasuki gerbang SMA. Jilbab sudah menyatu dengan diriku, akan terasa aneh jika rambut ini tertiup angin karena tidak ada jilbab pelindungnya.

Tetapi, lingkungan memang menjadi pengaruh yang sangat kuat, apalagi di usia rentan seperti diriku kala SMA. Dengan tuntutan gaya hidup dan berpenampilan oleh teman-teman sebaya, aku mulai ragu dengan jilbabku. Aku mulai merasa jilbab ini menjadi tembok penghalang aku dan teman-temanku. Menjadi sekat yang menjauhkan aku dari kehidupan masa mudaku.

Maka, perlahan tapi pasti, aku mulai berani meninggalkan jilbab ketika pergi bersama teman-teman. Sekali.. dua kali.. jilbab hanya kugunakan sebagai passport keluar rumah, selebihnya ku lepas dan ku masukkan ke dalam tas.

Tapi lagi-lagi aku adalah hamba yang sangat beruntung, karena Allah SWT memberikanku hidayah lagi dan lagi. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan identitas baruku sebagai gadis tidak berjilbab. Orang-orang mulai menggunjingkanku. ‘Munafik’ adalah kata pedas yang kudapat saat itu dan yang kemudian menyadarkanku bagai air dingin yang mengguyur badan di kala subuh. Maka aku pun menangis. Aku sadar aku sedang ditegur oleh-Nya. Betapa baiknya Ia mau menegur hamba-Nya yang sedang meninggalkan-Nya. Betapa hinanya aku sampai berani berpaling dari kewajibanku terhadap-Nya.

Maka kupastikan tidak akan lagi aku lepaskan jilbab ini dari kepalaku. Dan aku berjanji pada diriku, dengan jilbab di kepala, aku justru akan semakin berprestasi dan dihargai. Akan kubuang perasaan rendah diri karena jilbab. Sungguh pemikiran yang sangat keliru jika menyalahkan jilbab atas pergaulanku.

Sungguh kejadian ini memberikanku sebuah hikmah. Hikmah akan kesetiaan dan patuh terhadap yang Maha Setia, hikmah akan kecintaan terhadap ajaran dari Yang Maha Dicintai. Sesungguhnya, ketika orang-orang mulai membicarakanku, tentang sikapku yang melenceng, Allah SWT sedang menegurku agar kembali menjadi wanita yang Ia cintai. Wahai Rabb-ku, karena Engkaulah aku berhijab, dan hanya kepada-Mu lah ku serahkan segalanya. Sesungguhnya Engkau sebaik-baiknya tempat kembali.

Dan Allah Yang Maha Baik lagi-lagi menunjukkan kemurah-hatian-Nya. Dia membantuku dalam menepati janji pada diriku sendiri. Selama perjalananku di SMA, berkali-kali mendapatkan kesempatan mengikuti perlombaan, seperti lomba debat Bahasa Inggris dan lomba paduan suara, mewakili SMAN 3 Depok bersama dengan teman-teman lainnya.

Pada tahun 2009 lalu, Alhamdulillah, aku berhasil menjadi Wakil II Mpok Depok 2009 dan menjadi satu-satunya pemenang yang mengenakan jilbab pada saat itu, bahkan dari tahun 2002, ketika awal pemilihan Abang-Mpok Depok digelar. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan bagi diriku. Aku bisa menunjukkan pada masyarakat luas secara nyata, bahwa dengan berjilbab tidak akan membuat kita jauh dari pergaulan dan peradaban. Justru dengan jilbab kita bisa mendakwahkan Islam secara kaffah atau menyeluruh. Alhamdulillah, rahmat Allah memang akan selalu menjadi hikmah dan pelajaran hidup yang tidak akan terlupakan. Terima kasih atas segala berkah dan karunia-Mu selama ini ya Allah, izinkan hamba untuk terus mendakwahkan agama-Mu di bumi ini, izinkan hamba untuk menjadi insan yang lebih bermanfaat bagi banyak orang dan sempurnakanlah akhlak-ku agar selalu bisa menjadi agen Muslim yang baik dimanapun aku berada. Aamiin ya Rabbal ‘alamin..

Itulah sedikit pengalaman saya selama 10 tahun mengenakan jilbab. Sebuah perjuangan yang setimpal dalam mendapatkan cinta-Nya, meraih jannah-Nya. Semoga kita semua selalu bisa menjadi wanita yang Ia cintai dan selalu dalam lindungan-Nya.. Aamiin.

                                                                                                                                Depok, 24 Juli 2012

Congrats to Dwina Arini🙂 Mudah2an Bukunya bermanfaat ya, dan scarf dari Vania Scarfnya kepake..🙂

Syukron dah mau berbagi cerita bersama HC Depok.. :* Kiss

Wassalamualaikum Warohmatulloh…

Dengan kaitkata ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: