Allah Menyukai Para Pemaaf

Segala puji  hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yg Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yg Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.  Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullaah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallaahu a’alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.

Dalam hidup, kita berinteraksi dengan saudara-saudara kita. Dan manusia tempatnya salah & lupa. Pasti ada kesalahan. Baik ringan maupun berat. Ketahuilah, jika saudara kita bersalah maka boleh kita membalasnya. Namun jgn berlebihan karena akan menjerumuskan kita kepada kezaliman. Akan tetapi saya akan mengajak untuk merenungi suatu derajat yang lebih baik dari pada membalas kesalahan. Yaitu derajat memaafkan.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa jika ada saudara kita yang menjatuhkan harga diri kita, maka itu merupakan perkara yang paling berat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa yang namanya nafsu itu selalu ingin membalas dendam. Dan itu sifat dasar manusia. Tatkala saudara kita bersalah atau harga diri kita dijatuhkan di depan khalayak umum, maka keinginan jiwa untuk membalas sangat besar. Oleh karena itu barangsiapa yang menahan nafsunya itu dan memaafkan saudaranya, maka Allah menjanjikan kebaikan yang luar biasa.

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah berfirman, “Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” QS.4:149.

Perhatikan, “atau engkau memaafkan sesuatu kesalahan” adalah kalimat syarat yang umum, dimana Allah mensyaratkan untuk memaafkan apa saja. Karena pada dasarnya kesalahan saudara kita yang  datang kepada kita akan bermacam-macam modelnya, baik besar maupun kecil. Boleh jadi kesalahan saudara kita itu berkaitan dgn harta kita, tubuh kita mungkin dipukul, atau berkaitan dengan harga diri kita. Dan Allah menganjurkan untuk memaafkan kesalahan-kesalahan itu terutama yang menyangkut harga diri kita, sebagaimana sebuah syair, “Luka yang disebabkan sayatan pedang, itu masih bisa disembuhkan. Tapi luka yang disebabkan lisan, kadang sulit untuk disembuhkan.” Karena terkadang seseorang lebih baik hartanya dicuri atau dirinya disakiti dengan dipukul daripada harga dirinya dijatuhkan. Maka ketahuilah, sesungguhnya Allah mampu mengadzab hambaNya dan tidak ada yang bisa menghalangiNya akan tetapi Allah Maha Pemaaf. Dan Allah sangat mampu untuk mengampuni hambaNya setelah kemampuanNya untuk mengadzab hambaNya. Ini seperti isyarat, seakan Allah berkata “Justru kalian itu hendaknya mampu memaafkan, tatkala kalian mampu untuk membalas dendam.”

Sabar itu ada 2, yang pertama sabar terpaksa sebagaimana kisah Nabi Yusuf ketika dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, Maka terpaksa Nabi Yusuf sabar karena tidak bisa melawan. Dan orang yang sabar seperti ini mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala. Dan sabar yang lebih agung di sisi Allah adalah sabar ikhtiari, contohnya ketika Nabi Yusuf di rayu oleh wanita cantik. Nabi Yusuf ketika itu mampu lampiaskan syahwatnya, tidak ada yg melihatnya, tetapi  ia memilih bersabar agar tidak terjerumus maksiat. Mari kita renungi sebuah ayat yang mulia,

“Dan janganlah orang-orang  yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kpd kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? … Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” QS.24:22.

Ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq ketika ia brsumpah tidak akan memberi nafkah kepada kerabatnya Misthah bin Utsatsah. Misthah bin Utsatsah ini adalah kerabat Abu Bakar yang miskin dimana Abu Bakar lah yang memberi nafkah/makan untuknya sehari-hari. Akan tetapi ketika orang munafik menuduh Aisyah berzina. Misthah, seorang kerabat yang harusnya membela, malah ikut menuduh Aisyah. Ini suatu yang berat bagi Abu Bakar karena seorang yang diharapkan membela puterinya malah ikut-ikutan menuduh Aisyah. Namun Allah Azza wa Jalla menurunkan sekitar 15 ayat yang menjelaskan bahwa Aisyah wanita yang suci dan tidak berzina. Maka akhirnya Abu Bakar marah kepada Misthah bin Utsatsah dan bersumpah tidak akan memberikan nafkah lagi kepada Misthah bin Utsatsah. Lalu turunlah QS.24:22 ini. Perhatikan, tatkala itu Abu Bakar mampu balas dendam dengan memutuskan nafkahnya kepada Misthah.

Namun Allah memberikan anjuran kepada Abu Bakar. Sesuatu yang agung yang sangat mulia di sisi Allah melalui firman-Nya, “Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”.  Maka Abu Bakar berkata “Tentu yaa Allah, aku ingin mendapatkan ampunanMu.” Siapa diantara kita yang tidak ingin mendapat ampunanNya? Padahal Abu Bakar telah di jamin masuk surga, amalannya pun luar biasa. Namun tetap Abu Bakar sangat ingin mendapat ampunan Allah. Maka lihatlah diri kita yang penuh dosa. Gibah, memandang yang haram, lisan yang kotor, dsb. Mengapa kita tidak ingin mendapat ampunanNya? Karena itu para ulama menjelaskan bahwa balasan sesuai dengan perbuatan. Jika ia maafkan saudaranya maka Allah berikan ampunan kepadanya. Sebagaimana kita ingin dihapuskan dosa-dosa kita oleh Allah Azza wa Jalla maka hapuskanlah dosa-dosa saudara kita terhadap kita. Ada 2 kemungkinan yang bisa kita lakukan, pertama kita tutupi kesalahan saudara kita dan kita maafkan namun hati kita masih jengkel. Namun ada tingkatan yang lebih dari itu, yaitu kita benar-benar  lupakan seakan saudara kita tidak pernah bersalah kepada kita. Jika kita lakukan yang demikian maka kita akan dapatkan ampunan Allah yang seperti itu. Seakan kita tidak pernah bersalah dihadapan Allah. Sungguh perkara menyedihkan ketika kita di hisab.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa” Muttafaqun ‘alaihi. Karena itu, saudaraku teladanilah sifat memaafkan Rasulullah. Dan sifat memaafkan merupakan sifat orang bertakwa. Allah berfirman, “Bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu & kepada surga yang luasnya seluas langit & bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” QS.3:133.

Siapakah orang yang bertakwa yang Allah sebutkan dalam ayat di atas, maka Allah menjelaskan siapakah itu dalam QS.3:134. “(yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Dan Allah menjelaskan bahwa orang yang bertakwa bukan hanya orang yang menahan amarahnya namun termasuk orang yang memaafkan orang lain. Lalu Allah menutup dengan, “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Subhanallah itulah ihsan. Memaafkan saudara yang bersalah. Allah tidak memperinci kesalahan apa saja yang harus dimaafkan melainkan Allah suka jika kita memaafkan apapun kesalahan saudara kita. Oleh karena itu sifat memaafkan merupakan sifat yang sangat agung di sisi Allah yang dijanjikan surgaNya yang seluas langit dan bumi.

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” Ali-Imran ayat 159.

Sumber: kultwit @mamoadi

 

2 thoughts on “Allah Menyukai Para Pemaaf

  1. Asop mengatakan:

    …ini salah satu bentuk keadilan Allah.

    Memaafkan itu bagi kita sulit luar biasa. Kadang merasa begitu, ‘kan?
    Di balik itu, Allah memberi hadiah yang luar biasa bagi yang mampu memaafkan orang lain.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: